Pertumbuhan Ekonomi China

iklan1
Pertumbuhan Ekonomi China
            China yang memiliki nama formal People’s Republic of China merupakan
negara dengan pertumbuhan populasi mencapai 0,59 persen per tahun menjadi negara dengan populasi terbanyak di dunia selama beberapa abad terakhir. Kondisi ini tentu memiliki pengaruh yang kuat dengan keadaan sosial, politik, ataupun ekonomi di China (Anon, 2006: 1). Dalam hal perekonomian, China pernah mengalami proses naik turun kesejahteraan yang cukup signifikan. Pada era premoderen China merupakan negara dengan perekonomian dan tekhnologi termaju di dunia. Masa kejayaan ini mengalami puncaknya ketika Dinasti Song berkuasa, yaitu sekitar tahun 1200 dengan pendapatan ekonomi nasional terbesar di dunia. Namun pada tahun 1500 – 1800 China kehilangan kepemimpinannya karena tergeser dengan keberadaan kaum Eropa. Pada tahun 1978 China terpuruk menjadi salah satu dari negara-negara miskin di dunia dengan GDP yang hanya seperempatpuluh dari GDP Amerika Serikat yang tertinggi pada masa itu (Zhu, 2012: 104). Namun China dapat dengan cepat bangkit mengejar keterpurukan ekonomi hingga GDP China mengalami peningkatan lebih dari delapan persen per tahunnya. Perekonomian di China yang sempat turun kemudian naik ini merupakan implikasi dari aspek-aspek di bidang lain, seperti peranan pemerintah dan juga pendidikan.
            Runtuhnya perekonomian China diperkirakan oleh Zhu (2012: 104) telah mulai bahkan sebelum Revolusi Industri terjadi di Inggris. Meskipun runtuhnya perekonomian di China bertepatan dengan meningkatnya GDP negara Eropa, namun alasan keruntuhan China lebih tertuju pada buruknya pemerintahan pada masa itu, yaitu pemerintahan Ming (1368-1644) dan Qing (1644-1911). Pemerintahan pada masa ini dinilai terlalu tersentralisasi dan melakukan sistem politik yang cenderung tertutup (inward). Selain itu, pemerintahan masa Ming dan Qing menahan adanya inovasi dan aktifitas komersial di China. Hal ini tentu memberikan dampak yang buruk bagi perekonomian China yang seharusnya mampu bersaing dengan pihak luar. Sistem ini kemudian semakin melemah dengan adanya Opium War antara China dan Inggris di tahun 1840 dan 1850 serta adanya Sino-Japanese War di tahun 1894-1895. Perang ini secara tidak langsung merusak industrialisasi yang ada di China dan menurunkan GDP China (Zhu, 2012: 105). China mengalami penurunan GDP yang hampir mencapai nol pada masa itu sehingga disebut sebagai sick man of Asia (Thomas, t.t: 2).
            Keterpurukan tersebut mulai berangsur pulih ketika China memutuskan untuk mendirikanPeople’s Republic of China pada Oktober 1949. China kemudian merintis kembali industrialisasinya yang sempat terhenti pada tahun 1950. Terhitung setelah tahun 1978, akumulasi modal dan faktor produksi China meningkat pesat dibanding sebelumnya. Peningkatan yang pesat ini tidak lain merupakan hasil dari pertumbuhan keseluruhan total faktor produksi yang signifikan (Zhu, 2012: 109). Thomas (t.t: 8) menambahkan bahwa kemajuan ekonomi China juga didukung dengan berpindahnya China dari ideologi Konfusianisme ke Komunisme. Hal ini terlihat jelas bahwa sebelumnya Konfusianisme di China terkesan menghambat pertumbuhan ekonomi melalui kultur yang dibawa. Setidaknya ada empat kultur Konfusianisme yang telah ditinggalkan China, yaitu pemerintahan lama China yang cenderung korupsi, bisnis yang family oriented, pembatasan perkembangan dan inovasi ekonomi yang menolak science oriented karena dinilai berbau Barat, dan menolak adanya moderniasasi yang juga dibawa oleh Barat. Selain itu, kemajuan ini juga didorong dengan industrialisasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan mengembangkan investasi pada industri berat. Industrialisasi ini dijalankan dengan membatasi konsumsi barang rumah tangga dan memberikan harga yang murah bagi produk agrikultur agar dana yang ada dapat dialokasikan lebih untuk modal investasi industri. Maka ketika sektor industri berat ini berhasil, dana yang ada akan dialokasikan untuk pengembangan di sektor industri lain (Zhu, 2012: 109).
          Industrialisasi yang dilakukan oleh pemerintah China juga diimbangi dengan pembagian sektor-sektor produksi menjadi dua, yaitu sektor agrikultur dan non-agrikultur. Sektor non-agrikultur kemudian dibagi menjadi sektor negara yang mencakup perusahaan-perusahaan milik negara dan shareholding companies, dan sektor non-negara yang meliputi perusahaan milik individu dan juga investasi asing (Zhu, 2012: 110). Pemerintah juga menciptakan dua kebijakan baru melihat adanya peningkatan pesat pada sektor non-negara di sekitar awal tahun 1980. Kebijakan tersebut adalah dual-track system dan campur tangan pemerintah dalam bidang ekonomi. Kebijakan pertama dilakukan dengan menciptakan dua harga untuk satu produk barang, yaitu harga resmi dan harga pasar yang lebih rendah daripada harga resmi. Harga pasar akan digunakan untuk menjual produk kepada pihak asing, sedangkan harga resmi diberlakukan bagi pembeli dimestik. Kebijakan kedua dijalankan dengan menciptakan fiscal contracting system, yaitu pembagian kontrol pemerintah dalam sektor tertentu (Zhu, 2012: 114). Pada tahun 1997, Kongres Partai Komunis China yang ke-15 menyatakan untuk melegalkan adanya pengembangan terhadap perusahaan privat yang ditunjang dengan pengurangan hambatan seperti tarif. Kebijakan ini secara pesat meningkatkan adanya perusahaan lokal yang berkembang hingga mampu mendorong persentasi total faktor produksi hinga 3,61 persen per tahun (Zhu, 2012: 117). Hal ini kemudian membawa China menjadi negara dengan GDP tertinggi nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat pada beberapa tahun terakhir terhitung sejak tahun 2005 (Anon, 2006: 14).
          Keberadaan China dengan perekonomian yang tinggi tentu membawa pengaruh China pada hierarki internasional di berbagai sektor. Selain memberikan kontribusi positif pada perekonomian di tingkat global, China juga turut aktif berpengaruh pada rezim internasional yang ada. Integrasi China dalam ekonomi global dengan populasi penduduk yang mencapai seperlima populasi dunia dapat dikatakan turut meningkatkan integrasi global dalam sistem perdagangan. Pengaruh China dalam dunia global dapat dilihat dengan meningkatnya persaingan produksi barang murah oleh China yang menciptakan ketidakseimbangan dalam perekonomian global, meningkatnya harga komoditas sebagai akibat dari besarnya permintaan yang diciptakan oleh China, dan juga meningkatnya emisi rumah kaca seiring dengan meningkatnya industrialisasi di China (Golley&Song, 2011: 1). Dalam hubungannya dengan negara lain, China memiliki cara tersediri yang tidak dapat diprediksi secara signifikan. Johnston (2013: 17-8) menjelaskan secara singkat bahwa China akan cenderung mengikuti perjanjian dan hubungan dengan negara lain yang memberikan keuntungan bagi negaranya. China turut menyadari bahwa legitimasi dari negara lain akan didapatkan jika ia mempunyai hubungan dengan negara tersebut.
            Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasannya China sebagai negara dengan GDP tertinggi nomor dua di dunia merupakan negara yang pernah mengalami naik turun di bidang ekonomi. Meskipun China pernah menjadi negara dengan perekonomian dan tekhnologi yang memimpin pada sekitar tahun 1200, namun China pernah pula menjadi negara yang teramat miskin di dunia karena sistem pemerintahannya yang dinilai gagal. China baru bangkit kembali mengejar perekonomian dunia pada sekitar tahun 1952 setelah memutuskan untuk meninggalkan ideologi Konfusianisme dan beralih ke Komunisme. Ideologi Konfusianisme dinilai terlalu menghalangi perkembangan perekonomian China dengan tradisinya yang kaku. Dengan Komunisme China mulai membangun kebijakan-kebijakan baru yang mendorong munculnya industrialisasi setelah setelah sebelumnya melakukan isolasionisme. Industrialisasi ini menjadi langkah awal kemajuan China yang pada akhirnya berhasil mencapai peningkatan GDP yang cukup pesat. Hal ini tidak dapat dipungkiri juga mengambil peran pemerintah dalam pembuatan kebijakan ekonomi di China. Penulis berasumsi bahwasannya peran pemerintah dalam upaya peningkatan perekonomian negara tidak dapat secara keseluruhan diabaikan. Pemerintah harus diberikan celah untuk campur tangan dalam perekonomian negara dan pasar. Sehingga keseimbangan pasar dan pemerintah akan mendorong pada kestabilan perekonomian negara.

1 Response to "Pertumbuhan Ekonomi China"