Macam-Macam Diplomasi

iklan1
Macam-Macam Diplomasi
            Diplomasi sebagai kegiatan yang melibatkan interaksi beberapa n
egara memiliki berbagai cara unik untuk menarik perhatian dunia internasional. Diplomasi menerapkan cara-cara tersebut melalui beberapa bidang, yang kemudian melahirkan macam-macam diplomasi dengan tingkat keberhasilan memuaskan. Macam-macam diplomasi tersebut adalah security diplomacy, human right diplomacy, panda diplomacy, ping pong diplomacy, shuttle diplomacy, environment diplomacy, dan electronic diplomacy. Macam-macam diplomasi ini memiliki ciri khas masing-masing dalam pelaksanaannya. Ditinjau dari segi efektifitasnya, setiap diplomasi ini juga masih memiliki beberapa kekurangan di samping kelebihannya.
            Diplomasi yang tidak kalah penting dalam interaksi internasional adalah Security Diplomacy, dengan bahasan yang lebih kompleks dibandingkan  Coercive Diplomacy. Diplomasi keamanan dilakukan dengan membahas isu-isu keamanan dan meredakan konflik tanpa ada pemaksaan atas intervensi militer. Menurut Milan Jazbec (2006), diplomasi jenis ini sudah ada sejak era Westphalia, ketika negara-negara mulai diakui kedaulatannya dan berusaha untuk mejaga kekuatan negaranya dengan softpower tanpa ada intervensi dari negara lain. Djelantik (2008) menambahakan lima poin penting yang dapat dilakukan dengan diplomasi ini, yaitu menumbuhkan rasa saling percaya antar negara melalui aspek keamanan, penggunaan softpower dalam menjaga negaranya, menunjukkan batas-batas negaranya dalam dunia internasional, menyebarkan perdamaian, dan menjaga keamanan bersama dengan negara-negara sahabat. Diplomasi ini memiliki kontribusi terhadap perdamaian dunia, namun kegagalan pada diplomasi ini justru akan menimbulkan perang. Contoh dari diplomasi keamanan adalah pembentukan NATO.
            Human Right Diplomacy atau Diplomasi HAM merupakan diplomasi yang muncul dengan mendapat pengaruh dari Declaration of Human Right di Amerika Serikat pada tahun 1948. Deklarasi ini secara nyata menyampaikan tentang kebebasan-kebebasan individu dalam berbagai substansi, termasuk memilih, berpendapat, dan juga beragama. Diplomasi HAM menjadi salah satu diplomasi dengan tujuan dan bahasan tentang penegakan dan pengembangan terhadap hak-hak individu setiap warga negara. Diplomasi ini juga dilakukan dengan mengkaji permasalah-permasalahan tentang HAM dengan negara-negara dunia demi mencapai kesepakatan sikap atas isu terkait (Roberts, 2003: 633). Diplomasi HAM memiliki keunggulan dan peran penting dalam menciptakan universal peace dan memberikan kesempatan kepada non-state actor untuk ikut dalam kegiatan diplomasi. Di sisi lain, diplomasi ini masih diikuti dengan intervensi negara. Kelemahan dari diplomasi ini terlihat bahwa pada kenyataannya setiap negara memiliki batas tertentu dalam pemenuhan hak-hak warga negaranya yang dipengaruhi kuat oleh culture. Contoh dari diplomasi ini adalah perkumpulan-perkumpulan yang diadakan oleh PBB membahas HAM di dunia.
            Panda diplomacy atau Diplomasi Panda merupakan salah satu jenis diplomasi yang dilakukan oleh China. Penggunaan panda pertama kali dilakukan oleh Central Propaganda Department  Partai Nasionalis China pada saat propaganda diplomasi antara China dan Amerika Serikat pada tahun 1941, dan panda kemudian dijadikan simbol persahabatan kedua negara. Namun, panda sebelumnya sudah dijadikan wacana sebagai alat diplomasi oleh pemerintahan China sejak tahun 1928. Hal tersebut memandang pada beberapa konteks sejarah, di antaranya adalah keadaan wilayah barat-daya China atas rezim Nasionalis yang berperang melawan Jepang pada masa itu, kesadaran China akan kedaulatan negaranya yang kemudian memberi tanggungjawab atas alam dan isinya, termasuk panda, sehingga muncul pemikiran untuk menyebarluaskan panda sebagai cara untuk berdiplomas dengan negara lain (Masaki, 2009: 109). Diplomasi ini menjadikan panda sebagai ciri khas dalam prakteknya, contohnya adalah panda yang dikirim oleh China ke Malaysia. Panda tersebut digunakan China untuk mempererat hubungan diplomatiknya dengan negara-negara sahabat. Diplomasi ini memiliki nilai lebih karena panda merupakan salah satu hewan yang digemari di seluruh penjuru dunia, selain itu juga merupakan hewan langka yang perlu untuk dipelihara dengan baik. Namun, diplomasi ini hanya dapat dilakukan oleh negara China yang notabene sebagai negara asal hewan panda.
            Diplomasi unik yang lain adalah Ping Pong Diplomacy atau Diplomasi Ping Pong. Diplomasi ini juga merupakan diplomasi yang dipelopori oleh China. Asal dari keberadaan Diplomasi Ping Pong tidak terlepas dari hubungan buruk antara China dan Amerika pada tahun 1970. Hubungan buruk antara kedua negara diawali pada tahun 1949, saat China mengalami Revolusi Komunis yang menyebabkan Amerika menolak untuk melakukan berbagai macam hubungan diplomatik dengan China. Latar belakang permasalahan ini adalah permusuhan ideologi antara Amerika yang liberal dengan Uni Soviet yang komunis. Pada tahun 1960, hubungan antara Uni Soviet dan China mengalami transisi yang buruk meskipun keduanya memiliki ideologi yang sama. Hal ini dimanfaatkan oleh Amerika untuk merangkul China menjauh dari Uni Soviet (Bao, t.t: 3). Amerika dan China kemudian dipertemukan dalam World Table Tennis Championship pada April, 1971 di Nagoya, Jepang. Dalam pertemuan ini, petenis China, Zhang Zedong, mengambil kesempatan untuk berkomunikasi dengan pihak Amerika yang diwakili oleh Cowan. Komunikasi ini yang kemudian mengawali hubungan diplomatik antara China dan Amerika. Perdana Menteri China, Zhao Enlai, memutuskan untuk mengundang Amerika, yang dihadiri oleh Nixon, guna melakukan pertemuan membahas Vietnam di China (Bao, t.t: 5). Diplomasi Ping Pong yang dilakukan oleh China menunjukkan bahwa hubungan diplomatik dapat diawali dari kegiatan non-politik antar negara. Contohnya adalah turnamen olahraga internasional. Diplomasi seperti ini juga memberi dampak positif terhadap bidang lainnya. Kelemahan dari diplomasi ini adalah perlunya sosok dengan talenta yang berlebih dengan kemampuan diplomasi di samping peran aslinya.
            Diplomasi selanjutnya adalah Shuttle Diplomacy dengan ciri khas menggunakan pihak ketiga dalam pelaksanaannya. Diplomasi ini merupakan kombinasi dari caucus dan joint sessionyang dijumpai dalam tingkat internasional. Shuttle Diplomacy pertama kali muncul pada saat Perang Yom Kippur tahun 1973 yang melibatkan daerah Timur Tengah dan Henry Kissinger, yang saat itu menjabat sebagai sekretaris negara Amerika Serikat. Kata shuttle kemudian merujuk pada negosiator yang melakukan berbagai macam perjalanan untuk mewakili dan mengadakan pertemuan atas nama kedua negara yang bertikai (Hoffman, 2010: 10). Diplomasi ini merupakan diplomasi yang menggunakan pihak ketiga untuk membantu menyelesaikan kesepakatan karena kedua belah pihak terkait tidak bersedia melakukan interaksi face to face atau bahkan untuk sekedar mengetahui tentang negara lawannya. Contohnya adalah negara Amerika yang menjadi mediator antara Mesir dan Israel pada saat Perang Yom Kippur. Hal ini mengharuskan pihak Amerika menemui kedua belah pihak secara terpisah untuk kemudian menyampaikan informasi terkait kepada keduanya. Diplomasi ini memiliki keunggulan tersendiri yaitu dapat menyelesaikan konflik secara lebih cepat antara negara-negara yang saling tidak bersedia untuk bertemu. Namun, diplomasi ini sangat memungkinkan adanya pihak ketiga, yang berperan sebagai mediator, menyampaikan hal-hal yang tidak sesuai pada kenyataannya untuk meraih kepentingannya.
            Environment Diplomacy atau Diplomasi Lingkungan juga mempunyai andil penting dalam hubungan internasional saat ini. Kemunculan Diplomasi Lingkungan pertama kali dipelopori olehRio Earth Summit yang diadakan di Rio de Janeiro pada tahun 1992 oleh UN Conference on Environment and Development (UNCED) dan diikuti sedikitnya 180 negara. Setidaknya ada lima hal mendasar yang menjadi acuan berdirinya Environmental Diplomacy, yaitu permasalahan lingkungan, peran science dan scientist, kompleksitas negosiasi, persamaan isu lingkungan yang dialami oleh hampir semua negara dunia, dan aspek lingkungan itu sendiri yang menarik untuk dijadikan bagian dari diplomasi (Benedick, 1998: 5). Beberapa alasan tersebut dibuktikan dengan perkembangan keikutsertaan negara dalam perkumpulan internasional membahas lingkungan, di antaranya adalah Montreal Protocol pada 1987 yang hanya diikuti oleh duapuluh empat negara, kemudian Earth Summit pada 1992 yang diikuti oleh 180 negara, dan jumlah peserta dalam membahas lingkungan terbukti terus meningkat ke depannya (Benedick, 1998: 7). Diplomasi dengan ciri khas mengambil permasalahan lingkungan ini menjadi diplomasi yang efektif ke depannya, karena permasalah lingkungan merupakan ancaman terhadap aspek global yang memiliki pengaruh ke hampir semua negara dan juga banyak melibatkan aktor-aktor non-negara. Kemajuan dalam berbagai macam bidang juga hampir selalu memberi efek terhadap lingkungan global. Kelemahan dari diplomasi ini adalah bahwa dalam kenyataanya tidak semua negara bersedia untuk mengurangi kegiatannya yang berdampak negatif bagi lingkungan namun memenuhi kebutuhannya. Contohnya adalah Kyoto Protocol, yang mengharuskan negara-negara peserta untuk mengurangi tingkat emisi gas yang dihasilkan melalui berbagai macam cara. Hal ini kemudian ditolak oleh beberapa negara berkembang karena dinilai akan menghambat pertumbuhan ekonominya yang sebagian besar diiringi dengan peningkatan emisi gas. Dalam kenyataanya, memang negara-negara berkembanglah yang berperan sebagai penghasil emisi gas tingkat tinggi sebagai efek samping dari semangat pertumbuhan negaranya dalam berbagai bidang.
            Diplomasi yang juga sering dijumpai sekarang ini adalah Electronic Diplomacy atau sering disebut dengan E-diplomacy dan juga Digital Diplomacy. Diplomasi jenis ini merupakan diplomasi yang dilakukan dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan dari kemajuan teknologi, mulai dari media elektronik hingga internet. Kemajuan pesat di bidang ini memberi kesempatan bagi para pelaku diplomasi untuk menyebarluaskan aktifitas persuasifnya kepada dunia internasional. Diplomasi ini juga diartikan sebagai penggunaan web dan media sosial sebagai penyampai serta promotor nilai-nilai nasional dan hal-hal positif dari negaranya, sehingga negara luar dapat tertarik untuk menjalin hubungan dengan negara tersebut. Hal ini menjadikan Ediplomacy bagian dariPublic Diplomacy. Hal tersebut juga dikenal dengan penggunaan network power dan soft power(Turchyn, t.t: 34). Diplomasi ini dinilai efektif untuk saat ini karena keberadaan internet yang sangat membantu dalam penyebarluasan informasi dan memiliki akses yang mudah. Sedangkan kendala dari diplomasi ini berada pada minimnya ahli teknisi software dan memungkinkan adanya pembajakan di dunia maya. Contoh dari diplomasi ini adalah penggunaan akun twitter atas nama @MeetIRan oleh Presiden Rouhani yang berisikan tentang perihal pemerintahan yang juga berhubungan dengan kebijakan-kebijakan luar negeri.
            Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diplomasi memiliki berbagai macam jenis dengan pelaksanaan yang berbeda-beda. Yang pertama adalah Security Diplomacy yang dilakukan dengan mengangkat isu-isu keamanan sebagai penyelesaian kepentingan. Human Right Diplomacydilaksanakan dengan membahas keadaan HAM dan isu terkait di forum internasional. Panda Diplomacy dengan menggunakan panda sebagai ciri khas diplomasi China. Ping Pong Diplomacy,diplomasi yang diawali dengan hal-hal kecil non-pemerintah seperti olahraga yang kemudian mebuka jalan kepada hubungan antar negara yang lebih serius. Shuttle Diplomacy dengan ciri khas melibatkan pihak ketiga sebagai mediator dalam hubungan dua negara atau lebih. Environment Diplomacy sebagai diplomasi yang membahas isu-isu lingkungan dengan harapan menemukan soslusi terbaik bagi lingkungan internasionl. Dan yang terakhir adalah Electronic Diplomacy atau lebih dikenal dengan Ediplomacy, yaitu diplomasi yang dilakukan oleh pihak terkait dan disebarluaskan melalui media elektronik ataupun internet. Masing-masing dari diplomasi tersebut tentu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam praktek nyata, bergantung pada kemampuan setiap negara dalam menjalankannya. Jenis-jenis diplomasi yang telah ada juga memberi kontribusi bagi negara-negara saat ini untuk kemudian melakukan diplomasi dengan inovasi-inovasi yang lebih menarik.

0 Response to "Macam-Macam Diplomasi"

Post a Comment