Elastisitas Supply and Demand

iklan1
Elastisitas Supply and Demand
            Perekonomian memiliki berbagai macam substansi di dalamnya.
Substansi tersebut kemudian turut mempengaruhi penawaran dan permintaan. Berdasarkan pada permintaan dan penawaran tersebut, barang-barang dibagi menjadi beberapa tipe menurut intensitasnya pada suatu keadaan tertentu. Perbedaan jumlah penawaran dan permintaan barang pada suatu tingkat pendapatan tertentu dibagi menjadi tiga macam barang, yaitu barang normal, inferior, dan superior atau lebih dikenal dengan barang mewah atau luxury. Barang normal dapat didefinisikan sebagai suatu barang dengan tingkat permintaan yang selaras atau searah dengan tingkat pendapatan seseorang. Barang normal akan mengalami peningkatan permintaan saat pendapatan konsumen mengalami kenaikan, hal ini akan menyebabkan elastisitas pendapatan bergerak positif. Berlawanan dengan barang inferior, grafik permintaannya cenderung akan berbalik dengan tingkat pendapatan. Keadaan permintaan terhadap barang ini akan mengalami peningkatan justru ketika pendapatan konsumen mengalami penurunan, sehingga memunculkan elastisitas pendapatan yang negatif. Barang selanjutnya adalah barang superior atau barang mewah, yang mana keadaannya hanya akan dicapai pada suatu peningkatan pendapatan pada tittik tertentu (Lightstone, 2007: 1).
            Contoh dari ketiga tipe tersebut sangat umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Barang normal dengan grafik yang selaras dengan pendapatan merupakan gambaran dari kebutuhan umum sehari-hari yang dapat meningkat dan sengaja ditingkatkan pada saat pendapatan naik. Contoh dari barang normal adalah pembelian terhadap kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, jajan, dan kebutuhan pokok lain. Sedangkan barang inferior adalah barang-barang dengan harga yang relatif lebih murah dan mengalami peningkatan permintaan karena kesempitan pendapatan (Courtois, 2009: 8). Contohnya adalah permintaan tahu tempe jika ditinjau dari segi para penghuni kos. Permintaan terhadap tahu dan tempe akan cenderung meningkat pada akhir bulan saat keadaan pendapatan mengalami penipisan. Sedangkan pada awal bulan dengan keadaan pendapatan maksimal, permintaan terhadap barang ini justru akan menurun dan tergantikan dengan barang yang lebih mahal. Barang superior berbeda dengan keduanya. Contoh dari barang superior adalah mobil, permintaannya akan meningkat pada suatu tingkat pendapatan yang melampaui batas normal, dalam artian memiliki sisa lebih setelah dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan normal sehari-hari.
            Berhubungan dengan pendapatan, Ernst Engel memberikan beberapa argumen terkait yang kemudian dikenal dengan Engel’s Law. Argumen yang disampaikan oleh Engel merupakan pengamatan yang mengacu pada pendapatan atau total belanja terhadap makanan atau hal lain yang dilakukan oleh rumah tangga dalam periode tertentu (Chakrabarty&Hildenbrand, 2009: 1). Hukum Engel mengatakan bahwa pola pengeluaran suatu keluarga terhadap makanan atau barang lain akan dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Jika konsumen memiliki pendapatan yang kecil, maka persentase pengeluaran yang digunakan untuk membeli kebutuhan seperti makanan akan cenderung besar, ditinjau dari pendapatan dan sisa setelah digunakan. Hal ini diakibatkan karena pendapatannya akan habis hanya untuk membeli kebutuhan-kebutuhan tersebut. Sedangkan pada tingkat pendapatan yang lebih tinggi, persentase pengeluaran akan cenderung lebih kecil, karena masih banyak sisa pendapatan yang dapat disimpan di luar kebutuhannya (Gilarso, 2004: 77). Allen dan Bowley (1935, dalam Chakrabarty&Hildenbrand, 2009: 7) menambahkan bahwa Hukum Engel merupakan hukum dengan konsep teori mikro, sehingga memiliki efektifitas tinggi hanya jika digunakan untuk mengkaji dalam lingkup kecil atau kelompok individu.
            Contoh dari Hukum Engel adalah perbedaan persentase pengeluaran antara tukang becak dengan pegawai perusahan. Kedua pekerjaan ini tentu memiliki nilai pendapatan yang berbeda. Tukang becak dengan permisalan pendapatan Rp. 50.000,- per hari dengan pegawai perusahaan bergaji Rp. 150.000,- per hari. Tukang becak akan memiliki persentase pengeluaran yang lebih besar ketika ia membelikan Rp. 45.000,- uangnya untuk kebutuhan makan keluarganya. Sedangkan pegawai perusahaan, dengan makanan yang lebih mewah, mengeluarkan Rp. 90.000,- untuk kebutuhan makan keluarganya masih memiliki persentase pengeluaran yang lebih kecil dibanding dengan tukang becak tadi. Oleh karena itu, suatu negara dikatakan memiliki tingkat kemakmuran tinggi apabila warga negaranya memiliki persentase pengeluaran kebutuhan pangan yang kecil.
            Tingkat pendapatan sangat mempengaruhi elastisitas suatu produk. Elatisitas suatu barang tertentu juga berbeda dengan barang-barang lain yang sifatnya semi-substitusi. Peningkatan pendapatan dapat mengakibatkan suatu jenis barang mengalami elastisitas yang positif bahkan negatif. Sebagaimana dijelaskan, pendapatan merupakan aspek yang searah dengan permintaan barang normal, sehingga peningkatan terhadap pendapatan mengakibatkan peningkatan terhadap barang normal dan menjadikan elastisitas bergerak positif. Hal serupa juga dialami oleh barang-barang sueperior. Sedangkan untuk barang inferior, pendapatan besar justru menurunkan permintaannya, sehingga peningkatan pendapatan menjadikan elastisitas erhadap barang inferior bergerak negatif.  Pendapatan juga berpengaruh terhadap persentase pengeluaran sebagaimana dijelaskan dalam Hukum Engel.
            Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapatan mempengaruhi berbagai macam hal dalam ekonomi. Permintaan suatu jenis barang merupakan salah satu aspek yang paling dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Jenis barang tersebut kemudian dibedakan menjadi barang normal dengan permintaan searah dengan pendapatan, barang inferior dengan permintaan yang berlawanan dengan tingkat pendapatan, dan barang superior atau barang mewah yang permintaannya meningkat pada titik pendapatan tertentu. Pendapatan juga dikaji dalam Hukum Engel yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka akan semakin kecil nilai persentase pengeluarannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendapatan memiliki pengaruh yang besar terhadap elastisitas permintaan dan juga persentase pengeluaran. Penulis berpendapat bahwa barang inferior dapat diartikan juga sebagai barang semi-substitusi, yang mana perannya adalah menggantikan barang normal pada saat keadaan pendapatan mengalami penurunan. Barang tersebut akan dibeli dalam keadaan yang sedikit terpaksa dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan untuk membeli barang normal.

0 Response to "Elastisitas Supply and Demand"

Post a Comment