Konsep Long Tail

iklan1
Konsep Long Tail
            Perekonomian tidak akan pernah terlepas dari berbagai macam
perkembangan analisa yang ada guna terus melakukan perbaikan-perbaikan pada sistem yang ada. Analisa tersebut bisa mencakup segala aspek, dapat berupa analisa terhadap pembeli, penjual, ataupun barang yang dijual. Analisa tentang penjualan barang di pasaran dapat dikembangkan dengan menggunakan konsep long tail, yaitu konsep yang pertama kali digagas oleh Chris Anderson pada sekitar tahun 2004 dalam artikel majalah Wired (Anon, t.t: 14). Anderson mengartikan konsep tersebut sebagailong tail karena ia melihat bahwa grafik dengan kurva standar permintaan akan menunjukkan permintaan terhadap barang niche atau barang-barang yang kurang diminati terlihat seperti ekor yang kurus dan memanjang, jika dibandingkan terhadap kurva permintaan barang hits yang akan membentuk seperti badan yang gemuk. Yang utama dalam long tail adalah konektivitas antara barang niche dan hits yang tidak terbatas dan unfiltered (Anderson, 2006: 3). Konsep long tail dari Anderson mengindikasikan bahwa permintaan terhadap barang niche dapat mendekati ataupun melampaui permintaan terhadap barang hits apabila barang niche  tersebut dikelola dengan menghadirkan banyak pilihan kepada konsumennya. Keadaan seperti inilah yang kemudian menghasilkan gambaran kurva long tail sebagaimana digagas oleh Anderson.
      Anderson memberikan beberapa argumen untuk dapat meningkatkan permintaan terhadap barang niche. Yang pertama adalah dengan memanfaatkan segala hal yang dapat diakses dari barang niche tersebut. Contohnya adalah komputer. Komputer memiliki banyak manfaat tidak hanya sekedar untuk melakukan printing saja, sehingga rental komputer seharusnya memberikan akses lebih kepada para penyewa untuk tidak sekedar melakukan printing (Anderson, 2006: 54). Yang kedua adalah dengan memberikan cost yang murah. Argumen pertama dapat dihubungkan dengan argumen yang kedua, dimana ketika barang tersebut memiliki lebih banyak akses, maka setiap akses akan menghasilkan lower cost jika dibandingkan dengan barang dengan hanya satu akses (Anderson, 2006: 55). Yang ketiga adalah menghubungkan antara supply dan demand. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan konsumen pilihan-pilihan dari barang hits kemudian membawanya kepada barang-barang niche (Anderson, 2006: 56). Contohnya adalah memberikan berbagai macam pilihan barang hits dengan harga yang mahal dan barang niche dengan harga yang relatif lebih murah. Kemudian konsumen yang merasa harga barang hits tersebut terlalu mahal akan merubah pikiran untuk mencari barang yang lebih murah, yaitu barang niche.
          Long Tail  juga harus dikaji dari supply-side ataupun demand-side. Dari supply-side, produsen tentu mencari keputusan untuk menghasilkan barang atau jasa dengan acuan berapa banyak produk yang dapat diberikan kepada konsumen dengan biaya yang rendah dan berapa banyak konsumen yang benar-benar akan membelinya (Brynjolfsson et. al, 2006: 3). Hal ini kemudian memunculkan peran internet yang sangat membantu dalam berbagai aspek ekonomi. Internet memberikan pelayanan dengan harga yang relatif murah atau bahkan free. Berbeda denganretailer yang membutuhkan banyak space dan penataan yang jelas memakan banyak biaya untuk perawatannya. Selain itu, internet juga mudah untuk diakses dari berbagai belahan dunia, sedangkan retailer biasanya hanya diaksess oleh pihak lokal saja. Kemungkinan untuk menambah popularitas juga semakin besar jika menggunakan internet (Brynjolfsson et. al, 2006: 3). Ditinjau dari demand-side, semakin banyak produk yang ditawarkan oleh produsen, maka akan semakin sulit bagi konsumen untuk menentukan barang apa yang akan dibeli. Sehingga konsep long tail  di sisi lain akan menambah minat konsumen untuk membeli barang yang mungkin sebelumnya tidak ingin untuk dibeli (Brynjolfsson et. al, 2006: 4). Adanya internet juga membantu konsumen untuk mencari referensi barang yang lebih banyak serta lebih mudah. Internet juga bebas di akses oleh siapapun tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak, tidak menentukan kualifikasi khusus, dan jangkauannya luas (Brynjolfsson et. al, 2006: 5).
         Kurva long tail yang digagas oleh Anderson berbeda dengan kurva permintaan dan penawaran yang dikemukakan oleh Alfred Marshall. Kurva Marshall menunjukkan perbandingan dengan acuan permintaan dan harga. Kurva Marshall menunjukkan jumlah permintaan yang bergeser pada suatu harga tertentu. Sedangkan kurva long tail  lebih menunjukkan pada jumlah kuantitas permintaan barang pada tingkat popularitas tertentu. Kurva long tail terdiri dari bagian popularitas dan permintaan. Perbedaan yang signifikan antara kurva long tail dan kurva Marshall adalah bahwa pada kurva long tail permintaan terhadap suatu barang, meskipun barang tersebut adalah barang niche, tidak akan pernah mencapai titik nol. Sedangkan pada kkurva Marshall, permintaan dapat mencapai nol jika harga yang ada di pasaran terlampau tinggi (Brynjolfsson et. al, 2006: 9).  Meskipun permintaan terhadap barang niche tidak secepat permintaan  terhadap baranghits,  Anderson percaya bahwa permintaan terhadap barang niche tidak akan pernah mencapai titik nol.
         Contoh dari sistem yang menerapkan konsep long tail adalah Amazon.com. Situs tersebut tidak hanya menyediakan barang-barang yang sedang hits pada masanya, namun juga membuka peluang bagi barang-barang niche untuk masuk dan dipilih oleh konsumen. Amazon.com memungkinkan para pengunjung situsnya untuk melihat barang yang mungkin sebelumnya tidak diminati kemudian memutuskan untuk membelinya dengan berbagai alasan. Amazon.com juga telah menemukan hasil bahwa benar jika permintaan terhadap barang hits dan beberapa barangniche adalah relatif sma. Contoh lain adalah Guru.com yang menyediakan kemudahan untuk mempromosikan pekerjaan. Situs ini menjadi tujuan bagi para pekerja karena dinilai lebih mudah untuk dituju. Situs ini juga menjadi pilihan bagi para pemberi peluang kerja yang menginginkan untuk mendapatkan pekerja dengan gaji yang relatif lebih murah. Karena, mencari pekerja handal mungkin akan lebih sulit dan mahal dibanding dengan memilih pekerja yang masih baru dan murah kemudian dikembangkan kemampuannya. (Brynjolfsson et. al, 2006: 4).
          Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwasannya konsep long tail adalah konsep yang pertama kali digagas oleh Chris Anderson. Konsep tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya permintaan terhadap barang niche tidak akan pernah mencapai titik nol. Bahkan barang tersebut dapat mengalami permintaan yang relatif sama dengan permintaan terhadap barang hits apabila pengaturannya diatur sebagaimana kurva long tail, yaitu dengan menyediakan beberapa macam pilihan barang niche di samping barang hits. Kurva long tail berbeda dengan kurva yang dikemukakan oleh Marshall, yang percaya bahwa permintaan suatu barang akan mencapai titik nol pada harga tertentu. Namun, yang dijadikan acuan oleh Marshall dan Anderson memang berbeda. Penulis berasumsi bahwa sebenarnya kurva Marshall dan Anderson memiliki hubungan, yaitu harga dan popularitas. Suatu barang niche mungkin akan mencapai permintaan di titik nol apabila harga yang diberikan terlalu mahal hingga melebihi harga barang hits. Kedua kurva berhubungan untuk menentukan kuantitas dan harga dalam menjual suatu barang hits dan niche secara bersamaan. Di lain sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa barang yang pernah hits akan berubah menjadi barang niche, dan kemudian barang niche kembali menjadi trend pada masa setelahnya dan kembali menjadi barang hits dan begitu seterusnya.  Mengutip dari perkataan Anderson ‘Forget squeezing millions from a few megahits at the top of the charts. The future enterteinment is in the millions of niche markets at the shallow end of the bitstream.’

0 Response to "Konsep Long Tail"

Post a Comment