Diplomasi Abad Pertengahan I

iklan1
Diplomasi Abad Pertengahan I
Diplomasi secara dinamis terus mengalami perubahan
dari masa ke masa. Pada masa kuno, diplomasi masih sederhana dan belum secara utuh digagas sebagai sebuah kegiatan kenegaraan atau kerajaan. Diplomasi yang awalnya hanya merupakan hubungan tertulis antar negara satu dengan negara lain semakin berkembang menjadi kegiatan semi wajib negara, yang dilakukan dengan pengiriman utusan kepada negara yang bersangkutan. Cara pengiriman utusan tersebut juga menglami perubahan yang berarti, mulai dari sifatnya yang semi permanen hingga permanen dengan tugas-tugas yang semakin spesifik. Diplomasi turut dipengaruhi oleh keadaan negara dunia pada masa tertentu, oleh karena itu perkembangannya sangat berhubungan dengan sejarah zaman dan perang. Salah satunya adalah sejarah pada Abad Pertengahan, yang menunjukkan bahwa negara-negara Eropa telah memberi berbagai sumbangsih terhadap perkembangan diplomasi.
Abad pertengahan di Eropa ditandai dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan munculnya sistem kepausan serta Romawi Suci yang keduanya dianggap sebagai pewaris Kekaisaran Romawi (Nigro, 2006: 195). Paus dan Kaisar bersama-sama menyepakati berbagai macam hal, seperti perekonomian, wilayah, hingga agama, yakni agama Kristen. Kedua pihak menjadikan agama Kristen tumbuh dengan kuat dan melahirkan sistem Christendom. Pada masa ini, Gereja mengambil peranan penting dalam pemerintahan. Terlihat bahwa dalam sistem feodal, dengan raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pun masih harus tunduk kepada Gereja. Gereja juga bertindak sebagai penentu hukuman bagi tindakan yang dianggap salah. Rasa tidak nyaman atas keberadaan Gereja yang menghapuskan segala hal yang dianggap melebihi kuasanya, termasuk pengetahuan, menyebabkan masa in disebut juga sebagai Dark Age (Knutsen, 1997). Namun kemudian sistem Christendom justru menjadi rancu dan ambigu serta mengakibatkan tumpang-tindih dalam di bidang politik. Masa ini diakhiri dengan Perang Salib, yang secara tidak langsung memberi kontribusi nyata terhadap aktivitas diplomasi di Eropa serta melahirkan masa baru yaituRenaissance atau Pencerahan (Black, 2010: 32).
Pada masa selanjutnya, khususnya setelah Renaissance, perkembangan diplomasi di Eropa semakin aktif dan terorganisir. Diplomasi dengan metode baru mulai berkembang di Italia seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan negara-kota yang kembali muncul pada masaRenaissance. Pada masa ini, Italia untuk pertama kalinya mengirim kedutaan sebagai utusan permanen dari Duke of Milan ke Genoa pada pertengahan abad ke-15. Utusan tersebut dibekali tugas untuk mengumpulkan berbagai macam informasi serta sebagai pengaman kepentingan politik dan komersial negaranya (Roy, 1995: 62). Hubungan bangsa Venesia dengan Kekaisaran Byzantium sebagai organisasi komersial juga turut memberi kontribusi bagi diplomasi di Italia. Bangsa Venesia mengawali adanya dokumentasi arsip, perlunya kesopanan dalam berbahasa, serta pemberian informasi baru secara rutin terhadap utusannya di negara lain. Hal ini kemudian menjadi inovasi baru bagi negara-negara lain yang ingin melakukan diplomasi. Machiavelli, dalam bukunyaThe Prince, mengatakan bahwa sesungguhnya diplomasi adalah tindakan yang amoral, karena seringkali para utusan menggunakan muka dua demi mencapai kepentingannya  (Roy, 1995: 63). Sir Henry Wotton (dalam Roy, 1995: 64) bahkan menyatakan bahwa duta besar adalah seorang yang jujur yang diutus untuk berbohong pada negara lain demi kepentingan negara asalnya. Namun, uniknya duta besar pada masa ini tidak terbatas pada perwakilan dari negara asal saja, melainkan dapat pula perwakilan dari negara lain yang ditunjuk untuk mewakili negaranya. Selain duta besar atau ambassador, ada sub-ambassador yang juga diutus dengan tugas yang sama. Sub-ambassador biasanya diambil dari para pedagang yang bertempat di negara lain (Roy, 1995: 65).
Selain Italia, Perancis juga memberikan perubahan pada sistem diplomasi yang dianut cukup lama, yaitu selama tiga abad. Diplomasi Perancis merupakan diplomasi dengan menyempurnakan kekurangan-kekurangan pada sistem diplomasi yang digunakan oleh Italia. Perkembangan diplomasi di Perancis mendapat pengaruh kuat dari Hugo Grotius dengan karangannya yang berjudul De Jure Belli et Pacis yang terbit pada tahun 1625. Karangan tersebut menjelaskan pentingnya evolusi diplomasi yang teratur dalam perkembangan hukum internasional. Evolusi diplomasi tersebut dapat diwujudkan dengan mengirim utusan yang permanen serta menjalin hubungan diplomatik secara berkelanjutan dengan negara yang bersangkutan (Roy, 1995: 66). Kardinal Richeliu (dalam Roy, 1995: 67) menambahkan bahwa hubungan diplomasi bukanlah sesuatu yang ad-hoc, sehingga diperlukan adanya sifat saling percaya antara negara satu dengan negara lain dan diperkuat dengan perjanjian. Dengan demikian, negara terkait harus saling menghargai pendapat dan masukan dari negara lain. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Francois Callieres yang menegaskan bahwa diplomasi harus dilakukan dengan jujur dan sebisa mungkin menghindari adanya ancaman. Diplomasi Perancis yang bertahan sedemikian lama menjadikan bahasa Perancis sebagai lingua franca diplomasi (Roy, 1995: 68).
Spanyol sebagai bagian dari Eropa juga memberikan kontribusi dalam diplomasi dengan cara yang berbeda. Diplomasi Spanyol muncul pada abad ke-16, bermula ketika Cestile dan Aragon mengalami pertikaian rumit. Peran diplomasi kemudian digunakan untuk menempuh perdamaian di antara kedua belah pihak, yaitu dengan diplomasi kekeluargaan. Diplomasi ini dilakukan dengan melangsungkan pernikahan antara Ratu Isabella I dari Cestile dengan Raja Ferdinand II dari Aragon. Pernikahan tersebut menjadikan kedua belah pihak sebagai satu kesatuan dengan tetap mempertahankan keberadaan masing-masing. Bersatunya Cestile dan Aragon memberikan beberapa perubahan dan aturan baru, salah satunya adalah pemberlakuan agama Kristen secara meluas. Hal ini menyebabkan para muslim minoritas yang tinggal di Granada merasa terancam. Sebagai tenggapan atas sistem baru tersebut, Damascus mengirimkan utusan yang disebut sebagai khalifah untuk melakukan negosiasi dengan kedua belah pihak. Negosiasi ini dilakukan guna melindungi hak-hak dan kepentingan muslim minoritas yang ada di Granada (Edwards, 2005).
Dalam perkembangan abad pertengahan, tampak begitu jelas bahwa kaum bangsawan dan pemuka agama memiliki peran penting dalam diplomasi. Dominasi kepausan atas nama agama juga kuat dalam pengambilan keputusan. Berbeda dengan diplomasi kuno yang cenderung didominasi oleh petinggi politik atau pemerintahan, dalam artian kerajaan pada masa tersebut. Diplomasi abad pertengahan juga menerapkan sistem yang terbuka serta adanya perwakilan permanen. Individu tertentu, seperti pedagang, juga dapat diangkat menjadi perwakilan negara pada masa ini. Sedangkan pada masa diplomasi kuno, diplomasi cenderung bersifat rahasia dan masih menggunakan surat, serta hanya wakil kerajaan terpilih yang dapat menjadi utusan ke negara lain. Namun demikian, terdapat persamaan di antara kedua diplomasi tersebut. Salah satunya adalah anjuran untuk menggunakan bahasa yang santun saat menjalani diplomasi dengan negara lain (Roy, 1995: 50).
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa diplomasi turut berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Abad pertengahan yang diawali dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi dan diakhiri dengan Perang Salib hingga munculnya Renaissance merupakan tahap penting menuju diplomasi yang lebih terorganisir. Diplomasi di Italia memberikan kontribusi berupa mulai diberlakukannya pengiriman utusan secara permanen, dokumentasi arsip, serta perlunya memberikan informasi secara rutin kepada utusan di negara lain. Diplomasi Perancis menyempurnakan diplomasi Italia, yaitu hubungan diplomatik harus dilakukan secara berkelanjutan dengan negara yang bersangkutan, karena hubungan diplomatik bukanlah sesuatu yang ad-hoc.Sedangkan diplomasi Spanyol menunjukkan adanya utusan yang disebut sebagai khalifah dengan tugas-tugas tertentu saja. Diplomasi abad pertengahan memiliki beberapa aspek yang berbeda dengan diplomasi masa kuno, namun diplomasi tersebut masih saling terkait. Diplomasi abad pertengahan merupakan kelanjutan dari diplomasi masa kuno dengan perubahan yang lebih baik.

0 Response to "Diplomasi Abad Pertengahan I"

Post a Comment