Makalah Pengorganisasian Da'wah (THANZIM)

iklan1
BAB II
PEMBAHASAN

PENGORGANISASIAN DA’WAH (THANZIM)

A.    PENGERTIAN PENGORGANISASIAN DA”WAH (THANZIM)
Pengorganisasian adalah seluruh proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemiian rupa s
ehingga tercipta suat organisasi yang dapat di gerakan sebagai suatu kestuan dalam rangka mencapai suatu tujuan yang telah di tentukan
Pengorganiasasian atau Thanzim dalam pandangan Islam bukan semata-mata merupakan da’wah kan tetapi lebih menekankan bagaimana pekerjaan dapat dilakukan secara rapi, teratur dan sistematis. Hal ini sebagaimana  di ilustrasikan dalam Surrat Ash-Shaf : 4
 “ Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Pada proses pengorganisasian ini akan menghasilkan sebuah rumusan struktur organisaasi dan pendelegasian wewenang dan tanggung jawab. Jadi yang di tonjokan adalah wewenang yang mengikuti tanggung jawab, bukan tanggung jawab yang mengiuti wewenang. Islam sendiri sangat perhatian dalam memandang tanggung jawab dan wewenang sebagaimana yang telah di contohkan Oleh Rosullullah saw. Yang mengajak para sahabat untuk berpartisipasi melalui pendekatan empati yang sangat persuasive dan musyawarah.  
Ada dua hal yang haru di perhatikan dalam pengorganisasian, yaitu:
  1. Organization Design (desain organisasi
  2. Organization Stricture (Strktur Organisasi)
           Struktur Organisasi adalah kerangka kerja formal organisasi yang dengan kerangka ini tugas-tugas jabatan di bagi-bagi, dikelompokan dan di koordinasikan . Sedangkan Desain Organisasi yaitu suatu proses yang melibatkan keputusan-keputusan mengenai spesialisasi kerja, departementalisasi,rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, serta formalisasi. Jadi pengorganisasian da’wah itu pada hakikatnya adalah sebagai tindakan pengelompokan, seperti subjek,objek da’wah dll.
Dalam konteks ini haditas Nabi Muhammad saw dapat dijadikan sandaran Pengorganisasian yaitu:
Dua orang itu lebih baik daripada satu, tiga orangitu lebih baik dari dua orang dalam sebuah dan empat orang lebih baik dari pada dua orang, maka berjamaahlah kamu sekalian sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umat kamimelainkan kepadanya ada petunjuk.

B  BENTUK-BENTUK ORGANISASI DA’WAH
1.Spesialisai Kerja
   Manajemen Spesialisasi kerja diartikan sebagai tingkatan kemampuan sesorang dalam melakukan pekerjaan yang di tekuninya, dan tugas-tugas organisasi di bagi menjadi pekerjaan-pekerjaan terpisah “pembagian kerja”. Hakikat spesialisasi kerja adlah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang individu akan menjadi lebih bai jika pekerjaan tersebut di pecah-pecah menjadi sejumlah langkah dan setiap langkah di selesaikan oleh seorang individu yang berlainan. Jadi  pada hakikatnya setiap individu memiliki spesialisasi dalam mengerjakan bagian dari suatu kegiatan, bukan mengerjakan keseluruhan.
   Keterampilan seorang Da’I dalam menjalankan suatu tugas akan semakin baik dan meningkat dengan dilakukan secara berulang-ulang. Pepatah mengatakan “Pengalaman adalah guru yang berharga”.
   Disamping itu , hasilnya akan semakin baik dan meningkat karena dilakukan secara berulang-ulang, serta semakin sedikit waktu yang di gunakan bergnti tugas untuk melangkah selanjutnya. Ketermpilan-keterampilan ini dapat di nyatakan dalam tiga komponen yaitu:
a.                   Keterampilan teknis (technical skill) yaitu pengetahuan mengenai metode, proses proedur dan kemampua untuk menggunakan alat.
b.                  Keterampilan untukmelakukan hubungan antar pribadi (Interpersonal skill).yaitu pengetahuan tentang perilaku manusia dan proses-proses hubungan antar pribadi, kemampuan untuk mengerti perasaan, sikap dari motivsi orang lain tentang apa yang ia katakana dan lakukan.
c.                   Keterampilan konseptual (conceptual skill)yaitu kemmpuan anlitis umum, nalar kepandaian dalam membentuk konsep.   
2.      Departementalisasi Da’wah
Setelah unit kerja da’wah di bagi-bagi melalu spesialisasi kerja, maka selanjutnya diperlukan pengelompokan pekerjan yang dilasifikasikan melalui spesialisasi kerja , ehingga tugas yang sama atau ,irip dapat di kelompokan secara bersama-sama, sehingga dapat di koordinasikan.
Namun perl diperhatikan bahwa masing-masing kegiatan individunitu saling mengisi dan berhubungna sebagai suatu tim yang sama penting dan masing-masing tidak terlepas dari kerja sama tim (team work). Sementara itu  landsan yang di gunakan untuk mengelompokan tugas – tuga Da’wah dalam mencapai sasaran organisasi adalah dengan departementalisasi dakwah.
Kelebihan atau keuntungan  dari departementalisasi dakwah adalah akan memperoleh efisiensi dan mempersatkan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan, pengetahuan dan oreantasi yang sama kedalam unit-unit yang sama.
3.                  Rantai Komando
Rantai komando adalah sebiuah garis wewenng yang tidak terputus yang membentang dari tingkat atas organisasi terus sampai tingkat paling bawah dan menjelaskan hasil kerja da’wah ke departemen masing-masing.. Rantai ini akan memberikan sebuah kemudahan bagi para da’I untu menentukan siapa yang harus dituju jika mereka menemui permasalahan dan juga kepada siapa da’I tersebut bertanggung jawab. Dalam rantai komando ini tidak terlepas dari tiga konsep, yaitu :
a.                               Wewenang
b.                              Tanggung jawab
c.                               Komando


4  Rentang Kendali
Rentang kendali merupakan konsep yang merujuk pada jumlah bawahan yang dapat di supervise oleh seorang manajer secara efisien dan efektif. Walaupun pada sejarah manajemen belum ada standarisasi  yakni tidak ada kesepakatan ideal tertentu, namun dapat di ukur dari tingkatan dalam organisasi.
Dalam konteks organisasi dakwah ketika seorang maneger dakwah  naik dalam  herarki organisasi, maka ia harus berhadapan dengan masalah yang semakin beragam kerumitannya dan tidak terstrukturisasi, oleh karena itu para pemimpin tertingi harus rentang kendali yang lebih kecil dari pada manager-maneger menengah dan demikian seterusnya.
   Dalam memahami rentang kendali yang efektif dan efisien, maka akan di tentukan dengan melihat variable kontingensi.. Sebagai contoh semain banyak latihan dan pengalamam yang dimiliki para  Da’I , maka semakiin berkurang  pengawasan  secara langsung oleh manager
   Urgensi konsep rentang kendali dalam pengorganisasian dakwah ini karena dapat menentukan jumlah tingkatan dan kuantitas manager yang dimilikioleh organisasi  dakwah tersebut.
5, Sentralisasi dan Desentralisasi
Sentralisasi diartikan sebagai kadar sampai dimana pengambilan keputusan terkonsentrsi pada hierarki/ tingkat atas organisasi.. Konsep ini hanya mencakup pada wewenang formal, yaitu hak-hak inhern dalam posisi seseorang.
Sementara Desentralisasi adalah pengalihan wewenang untu membuat keputusan ketingkat yang lebih rendah dalam suatu organisasi. Dalam suatu organisasi yang bersifat desentraliasi maka segala tindakan dapat di ambil lebih cepat untuk memecahkan masalah.
Secara filosofis, desentralisasi ini dapat dikembalikan pada pengertian, bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap orang adalah khalifah, selalu cenderung dalam pemberian desentralisasi. Dalam Islam Rasulullah saw pertama kali memberikan hak dan wewenang desentralisasi kepada sahabatnya Muadz Bin Zabal yang diangkat sebagai gubernur di Yaman.

  1. Formalisasi Da’wah
Formalisasi da’wah adalah sejauh mana pekerjaan atau tugas-tugas da’wah dalam sebuah organisasi dakwah dibakukan dalam sejauh mana tingkah laku, skill,  dan keterampilan  para da’I di bombing dan diarahkan secara procedural oleh peraturan. Jika suatu pekerjaan diformalkan, maka pelaksanaan pekerjaan tersebut memiliki kualitas keluasan yang minim mengenai apa yang harus dikerjakan. Hal ini dimaksudkan agar para da’I diharapkan senantiasa melakukan aktivitas dakwah secara aktif dan konsisten sesuai procedural.

C.  DESAIN PENGORGANISASIAN
   Desain pengorganisasian tergantung dari tiga komponen yaitu strategi, teknologidan derjat ketidak pastian lingkngan organisasi tersebut. Desain sebuah pengorganissian dakwah itu terdiri dari :
              i.      Organisasi yang Mekanistik
                     Struktur organisasi mekanistik adalah sebuah struktur organisasi yang dicirikan oleh spesialisasi yang tinggi, departementalisasi yang luas rentang kedali yang sempit, normalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang tertulis dan partisifasi yang kecil dalam pengambilan keputusan dan pekerja di bawahnya.
2. Organissi organik
                                 Organisasi organic adalah suatu striktur perorganisasian yang sangat adaktif dan fleksibel dengan spesialisasi kerja yang sedikit, formalisasi yang minimal dan supervise langsung ke para pekerja junior. Dalam oranisasi organic ini dilakukan pembagian kerja bagi para Da’I mereka diberikan kuasa penuh untuk menangani masalah yang terjadi pada mad’u. Dampak pengorganisasian jenis ini adalah sangat minim untuk dilakukannya peraturan formal dan sediit pengawasan langsung, sebab keterampilan da’I dalaam mengatasi mad’u serta kerja sama tim sangat menentukan keberhasilan da’wah.




D  STRATEGI  DAN STRUKTUR DA’WAH
        Struktur Organisasi dakwah adalah sarana untuk menolong para manajer dakwah dalam mencapai sasaran, karena sasaran dakwah itu di rumuskan dari strategi organisasi. Tegasnya struktur organisasi dakwah harus mengikuti strategi dakwah
Strategi dan struktur dalam organisasi dakwah difokuskan pada unsure-unsur sebagai berikut:
v     Inovasi para pelaku dakwah yang akan mencerminkan usaha organisasi untuk mengejar inovasi menghadapi mad’u
v     Minimalisasi biaya yang mencerminkan usaha organisasi untuk melaukan pengendalian biaya secara ketat dalam aktifitas dakwah.
Adapun factor yang mempengaruhi strategi dan struktur organisasi dakwah dalam pengorganisasiannyaadalah :
1.                    Takaran dan Struktur
Besar kecilnya organisasi dakwah akan mempengaruhi strukturnya..
2.      Teknologi dan struktur
      Dakwah era modern bukan hanya sebatas Bil-lisansaja, tetapi harus menggunakan suatu bentuk teknologi untuk mengimbangi kemajuan yang ada pada masyarakat.
3.                    Ketidak pastian lingkungan
      Pada tataran aplikasi, seringkali organisasi dawah akan menghadapi kondisi ketidak pastian lingkungan. Oleh karenanya salah satu cara untuk mengantisipasi kondosi tersebut adalah melalui penyesuaian dalam struktur









E.. KOMUNIKASI DAN DESAIN ORGANISASI  DA’WAH
                  Banyak kendala yang akan dihadapi oleh pimpinan dkwah dalam pengorganisasiannya, khususnya dalam mendesain struktur organisasi yang memungkinan para pelaku dakwah dapat menjalankan tugasnya secara efektif dan efisien. Penggunaan teknologi informasi sangat mempengaruhi cara anggota organisasi dakwah dalam berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan dalam melaksanakan aktifitas mereka.
      Komunikasi dan pertukaran informasi diantara para anggota organisasi tidak lagi di batasi oleh ruang dan waktu. Dengan kata lain, para dai dapat mengakses informasi kapan dan dimanapun.
      Sedangkan implikasinya terhadap desain organisasi dakwah adalah desain organisasi dakwah sekarang yang berbasis tim tanpa batas tidak akan terlaksana tanpa ketersediaan, dan mudahnya mengakses informasi yang dimungkinkan oleh  sarana teknologi.
      Struktur itu harus memperlancar bukan menghambat para anggota organisasi untu melasanakan tugasnya. Dan perlu di ingat bahwa struktur dalam organisasi adalah sekedar sarana menuju tujuan.

F.. TUJUAN PENGORGANISASIAN.
       Tujuan dari pengorganisasian dakwah adalah :
v  Membagi kegiatan dakwah menjadi departemen-departemen atau difisi-difisi dan tugas-tugas yang terperinci dan spesifik.
v  Membagi kegiatan dakwah dan bertanggung jawab yang  berkaitan dengan masing-masing jabatan atau tugas dakwah..
v  Mengelompokan pekerjaan-pekerjaan dakwah kedalam unit unit.
v  Membangun hubungndikalangan da’i,baik secra individual,kelompok dan departemen.
v  Menetpkan garis-garis wewenang formal.
v  Menga lokasikan dan memberikan sumberdaya organisasi dakwah.
v  Dapat  menyalurkan kegiatan-kegitan secra logis dan sistemmatis.


BAB III
KESIMPULAN

Pengorganisasian  atau al-Thanzim dalam pandangan Islam bukan semata-mata merupakan Da’wah akan tetapi lebih menekankan bagaimana pekerjaan dapat dilakuan secara rapi, teratur, dan sistematis.
Dalam pengorganisasian dibutuhkan strategi dan struktur Da’wah yang dapat menunjang ketercapaian tujuan. Struktur organisasi merupakan sarana untuk menolong para menejer da’wah dalam mencapai sasaran karena sasaran dakwah itu dirumuskan dari strategi organisasi. Artinya Struktur Da’wah organisasi harus mengiuti strategi da’wah.
            Tujuan pengorganisasian da’wah yaitu untuk mempermudah mengaplikasikan rencana da’wah.





























PENGORGANISASIAN DA’WAH (THANZIM)
            Dengan mengucapkan syukur Alhamdullillah kepada Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini yang bertemakan tentang“Pengorganisasian Da’wah (Thanzim)”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas  Kelompok mata kuliah Ushul Piqih. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita samua. Khususnya bagi penyusun.
            Di dalam makalah ini sedikit kami uraikan mengenai “Pengertian Pengorganisasian Da’wah, Bentuk organisasi dakwah Desain organisasi dakwah,dan Tujuan pengorganisasian dakwah.”. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan dan kemampuan ilmu pengetahuan yang kami miliki oleh karena itu kepadaBapak  Dosen Pembimbing dan rekan-rekan semua saran dan kritik sangat kami harapkan.
            Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu menyelesaikan pembuatan makalah ini, Semoga Allah SWT senantiasa meridhai aktivitas kita semua Amin.

0 Response to "Makalah Pengorganisasian Da'wah (THANZIM)"

Post a Comment